selamat malam

•Mei 20, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

malam ini merupakan malam yang pekat
malam yang sama dengan sebelumnya
malam dimana aku mencari kamu
kamu yang sebenarnya..

aku memandang tirai langit
mencoba memanah rembulan
mencumbu dinginnya angin yang bergerak kian kemari
menerpa rerintikan hujan
menyenandungkan simfoni sunyi
hanya untuk mencari kamu
kamu yang sebenarnya..

maka rendahkan egomu
jangan injak kepalaku
cukup pejamkan mata dan dengarkan
alam semesta akan berbicara
bahwa hati kita telah menyatu
jiwa telah terikat
dalam suatu asa yang telah berkembang secara eksponensial
diantara jutaan keping kehidupan

dan karena itupun raut telah menjadi rindu
maka aku takkan berhenti
dan akan terus berlari
melintasi realita dan mimpi
menembus dimensi waktu
untuk selalu mencari kamu
kamu yang sebenarnya..

selamat malam…

Iklan

Procrastinator Perfectionist

•Mei 25, 2009 • 1 Komentar

[pagi-pagi buta, ditemani dengan cahaya mentari, udara yang sangat segar untuk menempuh hari yang baru, budi malah merenung di atas kursi kesayangannya yang berwarna coklat tua dan sudah sangat rentan itu. Seorang sahabatnya, Anduk, datang menghampiri dia dan mencoba untuk mempertanyakan raut wajah yang marah dan kesal tersebut dengan satu sapaan yang hangat layaknya seorang saudara. Plak.. terdengar bunyi yang berasal dari punggung Budi yang ternyata berasal dari layangan tangan Anduk dan sebuah perkataan klasik mengikutinya “what’s the matter with u bud ??” (ciiielah.. english version..)
Budi hanya terdiam dan mencoba untuk tidak mengarahkan perhatiannya ke sahabatnya tersebut. Ia lebih mengerutkan dahi nya dan hampir menjadi monster yang siap untuk memburu siapapun yang mencoba mengganggunya lagi. Anduk pun mencoba bersikap serius kali ini, dalam hati Anduk berkata “tak seperti biasanya Budi bertingkah seperti ini. There’s sam ting wong..” (duh.. jadi mandarin version..)
Anduk pun mencoba untuk mencairkan suasana dengan pertanyaan yang sama tapi dengan intonasi yang berbeda, sehingga terjadilah percakapan yang terjadi cukup singkat. Kurang lebih nya seperti ini ]

Anduk : “hey.. is there anything i can do ?”
Budi : “no.. i just thinking about something.”
Anduk : “c’mon.. tell me what da hell is going on ??
[silent for awhile..]
Budi : “there so many things i’ve planned, but only several that i really did..
there so many things i shouldn’t do, but i like being trapped on them..
idealism but inconsisten..
perfectionist but procrastinator..
i hate myself, and all around me..
they couldn’t bring me the best.”

ya beginilah kalo orang perfeksionis dan tipe penunda-nunda pekerjaan.
orang yang perfeksionis cenderung untuk mengerjakan segala sesuatu dengan detail dan sempurna. Apalagi kalo dengan gaya pemikiran yang cenderung idealis. Maka dalam pengerjaan segala sesuatu cenderung sistematis, ditambah sifat yang left brain, berfikirnya bukan holistik tapi part to whole. Sehingga jarang memperkirakan pengaruh gaya berpikir yang didapatkan dari lingkungan (social programming seperti agama, keluarga, dsb). Pemikir seperti ini mempunyai kelebihan dan kekurangan, kelebihannya adalah mereka mampu membuat pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan analisis yang tinggi, mereka selalu dapat mempertimbangkan semua hal baik buruknya, pro kontranya, sehingga keputusan yang diambil biasanya mempunyai kualitas yang baik serta sudah mempertimbangkan segala konsekuensi yang terjadi. Kalau tadi kesempurnaan nya menjadi suatu kelebihan, maka kesempurnaan tersebut juga menjadi suatu kekurangan, tuntutan untuk menghasilkan kinerja yang sempurna serta kemampuannya untuk mempertimbangkan dari semua sisi membuat mereka lama untuk mengambil keputusan. Bahkan sulit sekali bagi mereka memulai suatu pekerjaan karena terlalu banyak yang dipertimbangkan. Hal itu bakal jadi masalah yang besar. Betapa tidak, semua yang ingin dikerjakan sempurna namun ditunda-tunda akan memiliki waktu yang sedikit dibandingkan dengan yang langsung mengerjakan apalagi ditambah perfeksionisnya malah jadi seakan out of time. yang terjadi cenderung untuk menghakimi suatu keadaan dengan menyalahkan diri sendiri dan orang lain sekitar.

woalah..
tapi satu yang penting dan harus digarisbawahi dalam kehidupan.
kayak penggalan lagu Oasis aja yang liriknya begini :

“And so, sally can wait
She knows its too late as were walking on by
Her soul slides away
But dont look back in anger
I heard you say”

“Don’t look back in anger “, ya.. jangan melihat masa lalu sebagai sebuah penyesalan. Kalaupun nyesal, ya jangan sampai marah dan terus-menerus menyalahkan diri sendiri atau orang lain atas kejadian yang diterima. Kalau dicari-cari alasan, mungkin bakal ada 1001 alasan mengapa begini mengapa begitu, tapi tetep aja ga bakal merubah keadaan.
Seperti kayanya Wyne Dyer
“All blame is a waste of time. No matter how much fault u find with another, and regardless of how much u blame him, it will not CHANGE u”
Mencari “kambing hitam” atas sebuah kegagalan adalah cara mudah untuk menghindari tanggung jawab menyelesaikan tantangan dalam kehidupan, dan semuanya itu cuma buang-buang waktu, .

Everything’s happen for a reason, isn’t ??
kalau semua ada alasannya, kenapa kita tidak mencari alasannya (walaupun alasan itu tersirat). Kenapa kita malah terkurung dalam pertanyaan ” Apakah ada yang salah ?? Siapa yang salah ?? Mengapa semua itu bisa terjadi? ”
Kalau semua yang terjadi itu ternyata telah menjadi pelajaran yang berharga. so mengapa kita harus menjadi takut untuk melangkah.

ya ambil hikmahnya aja, jangan cuma ambil salahnya.
Hidup emang ga pernah menunggu, waktu emang ga pernah bisa kembali.
Kehidupan telah mengajarkan bagaimana seharusnya mengambil tindakan.
walaupun dalam proses pengajarannya tidak ada pembimbing, harus mengalami kesalahan, penyesalan dan segala macamnya.
tapi itulah hidup, itulah aktualisasi diri.
Jadi mulai sekarang harus komit mengambil 100% tanggung jawab atas tindakan yang dipilih.
oke….

gw tutup dengan pernyataan Pak Karno :

“Yang terpenting bagi seseorang adalah terus dan selalu mengerjakan sebaik mungkin segala sesuatu yang ia anggap benar.
Apa dan bagaimanapun hasil akhir dari pekerjaan itu, serahkanlah pada Tuhan.
Mungkin tercapai 100%, mungkin setengah tercapai, mungkin pula tidak tercapai sesuai keinginanmu.
Itu tidak penting.
Engkau harus yakin bahwa telah mengerjakan sebaik-baiknya, dengan demikian engkau tak akan menyesal, dan percayalah bahwa setiap keputusan Tuhan adalah yang terbaik bagimu.”

Notes ini dibuat bukan untuk menyalahkan si budi dengan sifatnya yang seperti itu, namun bagaimana kita bisa berinteraksi, mengenal karakter dari budi dan bisa menyikapinya dengan strategi yang baik sehingga dapat memanfaatkan kelebihan darinya dan meminimalisir kelemahannya. Life is about strategy guys

Happy sunday, Gbu all. =)

Tuhanku, Sahabatku..

•Mei 11, 2009 • 1 Komentar

Beberapa saat yang lalu saya mendapatkan sebuah kisah nyata yang mengharukan.. Ceritanya seperti ini :

Ada seorang bocah kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor Camarine Sur, Filipina, yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah yang berbatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya dimana banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan.

Setiap kali berhasil menyebrangi jalan raya tersebut, bocah ini mampir sebentar ke Gereja tiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan, sahabatnya.
Tindakannya ini selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut.

“Bagaimana kabarmu, Andy? Apakah kamu akan ke Sekolah?”

“Ya, Bapa Pendeta!” balas Andy dengan senyumnya yang menyentuh hati Pendeta tersebut.

Dia begitu memperhatikan keselamatan Andy sehingga suatu hari dia berkata kepada bocah tersebut, “Jangan menyebrang jalan raya sendirian, setiap kali pulang sekolah, kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat.”

“Terima kasih, Bapa Pendeta.”

“Kenapa kamu tidak pulang sekarang? Apakah kamu tinggal di Gereja setelah pulang sekolah?”

“Aku hanya ingin menyapa kepada Tuhan.. sahabatku.”

Dan Pendeta tersebut meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya di depan altar berbicara sendiri, tetapi pastur tersebut bersembunyi di balik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andy kepada Bapa di Surga.

“Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun temanku melakukannya. Aku makan satu kue dan minum airku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanya kue ini.
Terima kasih buat kue ini, Tuhan! Tadi aku melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya.. lucunya, aku jadi tidak begitu lapar.

Lihat ini selopku yang terakhir. Aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu minggu depan.Engkau tahu sepatu ini akan rusak, tapi tidak apa-apa..
paling tidak aku tetap dapatpergi ke sekolah. Orang-orang berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa dari temanku sudah berhenti sekolah, tolong Bantu mereka supaya bisa bersekolah lagi.
Tolong Tuhan.

Oh, ya.. Engkau tahu kalau Ibu memukulku lagi. Ini memang menyakitkan, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang Ibu.
Tuhan, Engkau mau lihat lukaku ??? Aku tahu Engkau dapat menyembuhkannya, disini..disini.aku rasa Engkau tahu yang ini kan….??? Tolong jangan marahi ibuku, ya..?? dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makan dan biaya sekolahku..itulah mengapa dia memukul aku.

Oh, Tuhan..aku rasa, aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang sangat cantik dikelasku, namanya Anita. menurut Engkau, apakah dia akan menyukaiku??? Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu. Engkau adalah sahabatku.

Hei… ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira??? Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untukMu. Tapi ini kejutan bagiMu.
Aku berharap Engkau menyukainya. Oooops..aku harus pergi sekarang.”

Kemudian Andy segera berdiri dan memanggil Pendeta .

“Bapa Pendeta..Bapa Pendeta..aku sudah selesai bicara dengan sahabatku, anda bisa menemaniku menyebrang jalan sekarang!”

Kegiatan tersebut berlangsung setiaphari, Andy tidak pernah absen sekalipun.

Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan yang murni kepada Tuhan.. suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif.

Pada hari Natal, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja tersebut diserahkan kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan segala sesuatu yang orang lain perbuat. Mereka juga mengutuki orang yang menyinggung mereka.

Ketika mereka sedang berdoa, Andypun tiba di Gereja tersebut usai menghadiri pesta Natal di sekolahnya, dan menyapa “Halo Tuhan..Aku..”

“Kurang ajar kamu, bocah!!! tidakkah kamu lihat kalau kami sedang berdoa???!!! Keluar, kamu!!!!!”

Andy begitu terkejut,”Dimana Bapa Pendeta Agaton..??Seharusnya dia membantuku menyeberangi jalan raya. dia selalu menyuruhku untuk mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus, karena hari ini hari ulang tahunNya, akupun punya hadiah untukNya..”

Ketika Andy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar Gereja.

“Keluar kamu, bocah!..kamu akan mendapatkannya!!!”

Andy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian menyebrangi jalan raya yang berbahaya tersebut di depan Gereja. Lalu dia menyeberang, tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang – disitu ada tikungan yang tidak terlihat pandangan. Andy melindungi hadiah tersebut didalam saku bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut. Waktunya hanya sedikit untuk menghindar.dan Andypun tewas seketika. Orang-orang disekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang tersebut yang sudah tidak bernyawa lagi.

Tiba-tiba, entah muncul darimana ada seorang pria berjubah putih dengan wajah yang halus dan lembut, namun dengan penuh airmata dating dan memeluk bocah malang tersebut. Dia menangis.

Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya,”Maaf tuan..apakah anda keluarga dari bocah yang malang ini? Apakah anda mengenalnya?”

Tetapi pria tersebut dengan hati yang berduka karena penderitaan yang begitu dalam berkata,”Dia adalah sahabatku.” Hanya itulah yang dikatakan.

Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam saku baju bocah malang tersebut dan menaruhnya didadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh bocah tersebut, kemudian keduanya menghilang. Orang-orang yang ada disekitar tersebut semakin penasaran dan takjub..

Di malam Natal, Pendeta Agaton menerima berita yang sangat mengejutkan.

Diapun berkunjung ke rumah Andy untuk memastikan pria misterius berjubah putih tersebut. Pendeta itu bertemu dengan kedua orang tua Andy.

“Bagaimana anda mengetahui putra anda telah meninggal?”

“Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari.” Ucap ibu Andy terisak.

“Apa katanya?”

Ayah Andy berkata,”Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas meninggalnya Andy, sepertinya Dia begitu mengenal Andy dengan baik. Tapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut Andy dari wajahnya dan memberikan kecupan dikeningnya, kemudian Dia membisikkan sesuatu.

“Apa yang dikatakan?”

“Dia berkata kepada putraku..” Ujar sang Ayah. “Terima kasih buat kadonya.
Aku akan berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku.” Dan sang ayah melanjutkan, “Anda tahu kemudian semuanya itu terasa begitu indah.. aku menangis tapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu.aku menangis karena bahagia..aku tidak dapat menjelaskannya Bapa Pendeta, tetapi ketika dia meninggalkan kami, ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku.. Aku tidak dapat melukiskan sukacita dalam hatiku. aku tahu, putraku sudah berada di Surga sekarang.
Tapi tolong Bapa Pendeta .. Siapakah pria ini yang selalu bicara dengan putraku setiap hari di Gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena anda selalu di sana setiap hari, kecuali pada saat putraku meninggal.

Pendeta Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes dipipinya, dengan lutut gemetar dia berbisik,”Dia tidak berbicara kepada siapa-siapa… kecuali dengan Tuhan.”

Apakah kita selalu mengucap syukur ditengah beratnya kehidupan?? ditengah berbagai masalah keuangan, pendidikan, keluarga??

Apakah kita selalu menyertakan Tuhan dalam setiap perkara dalam kehidupan kita  ??

Semoga dengan tulisan ini, kita semua menjadi semakin dekat dengan Tuhan.

Amien… Gbu

rasa yang telah berkarat (dalam kesendirianku aku mencoba menulis maknamu)

•April 18, 2009 • 3 Komentar

katakanlah siapa diriku wahai gelapnya malam yang menyembunyikan hati
ketika kulihat indahmu, dan hendak kugapai
namun enggan ku menunjukkan diri

aku terdiam..
aku bungkam..
satu sisi dimensi tak lagi menyuarakan satu ruang
ketika kau datang seperti pencuri
memburu mimpi bersama dinginnya angin malam

aku teringat ketika engkau berkata manja kala itu
rona merah menerpa dibalut senja sinar sore
kata mereka kau memang cantik
tapi walaupun setiap orang tertipu dengan kecantikan
aku bicara padamu tentang cinta dan kepribadian

kau takkan tau nona,
ya..
begitu juga dengan aku
tentang akhir sebuah kisah..
kita terlanjur bermain dalam teka-teki yang telah kita mulai
dan setiap detik diamnya adalah misteri
masihkah kita bermesra ketika tak ada kata-kata ??
atau hanya diam yang menjadi jawabnya…

aku harap tidak…
sampai kau membaca rasa yang telah berkarat
dalam setiap inchi tulisan ini


dalam kesendirianku aku mencoba menulis maknamu

Bandung, 17 April 2009

TAN MALAKA (1897-1949)

•April 14, 2009 • 2 Komentar

foto tan malaka dari penjara

Tan Malaka –lengkapnya Ibrahim Datuk Tan Malaka—menurut keturunannya ia termasuk suku bangsa Minangkabau. Pada tanggal 2 Juni 1897 di desa Pandan Gadang –Sumatra Barat—Tan Malaka dilahirkan. Ia termasuk salah seorang tokoh bangsa yang sangat luar biasa, bahkan dapat dikatakan sejajar dengan tokoh-tokoh nasional yang membawa bangsa Indonesia sampai saat kemerdekaan seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Moh.Yamin dan lain-lain. Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini telah banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang orisinil, berbobot dan brilian hingga berperan besar dalam sejarah perjaungan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia mendapat julukan tokoh revolusioner yang legendaris.

Pada tahun 1921 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Syarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.

Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran (hobby) mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum kromo (lemah/miskin). Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah.

Dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar. Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh. Seperti dikatakan Tan Malaka pad apidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”.

Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskow diikuti oleh kaum komunis dunia. Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI.

Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang sangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannya memisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso. Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu. Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digul Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.

Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu, berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di ibukota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis “Menuju Republik Indonesia”. Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Cina, April 1925. Prof. Moh. Yamin sejarawan dan pakar hukum kenamaan kita, dalam karya tulisnya “Tan Malaka Bapak Republik Indonesia” memberi komentar: “Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah….”

Ciri khas gagasan Tan Malaka adalah:

(1) Dibentuk dengan cara berpikir ilmiah berdasarkan ilmu bukti,

(2) Bersifat Indonesia sentris,

(3) Futuristik dan

(4) Mandiri, konsekwen serta konsisten.

Tan Malaka menuangkan gagasan-gagasannya ke dalam sekitar 27 buku, brosur dan ratusan artikel di berbagai surat kabar terbitan Hindia Belanda. Karya besarnya “MADILOG” mengajak dan memperkenalkan kepada bangsa Indonesia cara berpikir ilmiah bukan berpikir secara kaji atau hafalan, bukan secara “Text book thinking”, atau bukan dogmatis dan bukan doktriner.

Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama.

Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkrit, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat menjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana.

Semua karya Tan Malaka dan permasalahannya dimulai dengan Indonesia. Konkritnya rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang “text book thinking” dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dicetuskan sejak tahun 1925 lewat “Naar de Republiek Indonesia”.

Jika kita membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (“Gerpolek”-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan kita temukan benang putih keilmiahan dan keIndonesiaan serta benang merah kemandirian, sikap konsekwen dan konsisten yang direnda jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangan implementasinya.

Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama pimpinan Persatuan Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu.

Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi republik Indonesia akibat Perjanjian Linggarjati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Syahrir dan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai MURBA, 7 November 1948 di Yogyakarta. Dan pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka gugur, hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan “Gerilya Pembela Proklamasi” di Pethok, Kediri, Jawa Timur. Namun berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Sukarno 28 Maret 1963 menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional.

Meskipun seakan dilupakan sejarah ia tetaplah akan terus dikenang seperti sebuah ucapannya yang telah menginspirasi banyak orang.

“BERGELAP-GELAPLAH DALAM TERANG, BERTERANG-TERANGLAH DALAM GELAP !!” (TAN MALAKA)

idealis vs perasaan..

•Maret 23, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

bingung.. beberapa bulan ini kok gw merasa hidup gw jadi miserable gini..

lebih tepatnya beberapa minggu terakhir ini..

what the hell is going on ??

kenapa lingkungan menjadi sangat terasa asing buat gw ??

kenapa justru didalam keramaian gw merasa kesepian ??

kenapa segala sesuatunya menjadi tidak bersemangat seperti hari sebelumnya ??

ahh.. ada yang aneh.. sungguh ada yang aneh..

kenapa semuanya jadi gini ya ??

mungkin ini dimulai ketika ada pertentangan antara sifat melankolis dan perasaan..

perasaan untuk menyukai seseorang, perasaan untuk bisa menaruh harapan pada seseorang.. yang kemudian terbentur dengan freakin idealis telah melahirkan sisi yang berbeda dalam diri gw.. memandang suatu kondisi dengan memandingkannya pada kondisi yang ideal atau sempurna telah membuat segala sesuatunya menjadi kompleks.. terlalu banyak analisis, terlalu banyak yang harus dipertimbangkan, terlalu banyak persepsi, uhhh.. kata Hj.Rhoma Irama “terlaaluuuuuu ”

padahal kan semua ga harus sekompleks itu.. padahal ga dilapangannya seperti itu.. ahhh melankolis ini emang bener2 harus ditekan.. kenapa koleris gw tiba2 menghilang ya akhir2 ini.. padahal kemarin2 masih ada tepat dipundak gw..

mana ini “mencoba menghadapi segala sesuatu dengan resikonya” ?? kok bisa2nya ga muncul ?? “berani tantangannya” kok ga ada ?? apalagi pepatah yang mengatakan “klo ga dicoba, gmn kita bisa tau ? ”

mana ??? mana ?? mana ???

BAHAYA !!!

penyakit ini mulai menggerogoti segala aspek..  tapi kok gw malah seperti sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini.. this is not good.. gw mesti nyari solusi nya.. tp gmn caranya ??

sempat gw berfikir untuk mencoba menghilangkan perasaan ini.. dalam benak gw tercipta kata-kata “kenapa gw harus terjebak dalam pasir hisap yang menyita banyak hal baik waktu maupun pikiran??”

tetapi ketika gw mau mencoba untuk membunuh rasa ini.. semua sia-sia.. semua akan kembali, perasaan ga bisa dibohongi..

sekarang keadaanya semakin ga baik… gw pengen melakukan sesuatu, cuma gw ga pengen karena terpaksa oleh lingkungan.. gw ga pengen ada katalisator.. gw ga pengen smuanya gegabah.. gw ga pengen cepet2 mengambil keputusan.. tapi waktu seakan menjadi musuh gw.. realita memaksa gw untuk berkata tidak.. idealisme muncul memperkuat realita itu..

ahh jadi bingung kan.. huhu..

gw cuma ga mau ada penyesalan.. itu aja sih..

apapun pilihan yang nanti gw ambil itu.. benar atau salah.. gw ga mau ada PENYESALAN.. gw ga mau sadar setelah segala sesuatunya terjadi.. ckckck..

sekian dulu ah..

He is no fool

•Maret 16, 2009 • 1 Komentar

In the late 1940’s two American teenage boys were growing up. They had the look of greatness about them, and every one who met them thought, “we’d better keep our eyes on these two kids – they’ll go far”. In College, they rose to become student leaders, respected and admired by peers and faculty alike. In fact, many said that Nate, the elder of the two could very likely become President of the USA in the future.

But that was not to be.

On the morning of 8 January 1956, those two young men, and three companions, climbed into an amphibious Piper airplane in Ecuador, South America. They took off and flew half an hour out over the Amazon jungle, to an Indian village they had spotted just a few days earlier. They had made contact with this village before, and had successfully dropped gifts for the people in a specially designed bucket. They felt that now was the time to attempt to meet the villagers face to face, and were planning to land on the river.

Although landing on a jungle river is incredibly difficult, their pilot was an ace aviator, and they managed to do so without a problem. Feeling nervous and excited at the same time, and after a quick prayer, all five got out of the plane as it came to a halt on the river on a sandbar near the Indian village.

The village was one of the villages of a tribe of Indians known as the Aucas. This was a name given to them by the surrounding Indian tribes – it means “savage”. And that’s exactly what they were. They were untouched by civilisation, and throughout the centuries had gained a reputation for being brutal, and killing all outsiders. These five young missionaries were hopeful that they would be able to make a breakthrough this morning.

As they approached the Indian village, they saw a large group of men coming to meet them. The waited as this group approached them. Then the leader of that group, a man named Guiquita Waewae gave a shouted command, and the villagers raised their spears, and savagely murdered the missionaries with their three-metre chonta wood spears.

When the men did not return to their base, a plane was sent to find them, and their bodies and wrecked plane were seen lying on the sandbar, in pools of blood. They died without ever speaking to the people they came to love. They died in shame, without graves, but heaven’s hosts stood to honour and applaud as these men took their place among Christ’s martyrs that day in January 1956.

A few years later, two of the wives of those missionaries had the privilege of being among the first outsiders to make contact with the Auca Indians. And the wife of the leader of the group of five that was murdered was able to lead Guiquita, the man who had killed her husband, to the Lord.

I don’t know about you, but when I hear a story like that, I am awed and amazed at what people have done through the ages in the name of God. I am humbled at my own puny attempt at living a Christian life. And I wonder whether my life is really worth anything to God. Do you have the same thoughts?

Do you ever wonder if God can really use you? Or maybe you have slaved away for many years in some ministry, and been frustrated at your lack of results. Have you ever completed a task for the Lord, and looked back on it and wondered why there just doesn’t seem to be any result, and fruit for your effort? Do you wonder if God can use you?

Well, I have the answer for you this evening – and the good news is, the answer is simple. Our text is Hebrews 11:6. In fact, I am only going to concentrate on the first part of this verse:

“Without faith it is impossible to please God…”

If you want to please God, you must have faith.

What does that mean?

I’ve been a Baptist all my life, and for the good things about Baptists, we can be a bit legalistic if we’re not careful. Life can become a list of do’s and don’ts, without much passion and heart.

(Comment on worship??)

But this verse is clear – no matter how much you do, or even how much you appear to achieve, if you don’t have faith, God won’t be pleased with you. God wants us to have faith.

But what is faith?

Heb 11:1 gives us the answer to that question. Faith is being sure of what we hope for and certain of what we do not see.

Let me illustrate:

NATE SAINT’S older brother was a commercial airline pilot, and that had been Nate’s dream, too. When he finished High School, he immediately joined up with the US Army Air Corp, but after intensive training an old scar became inflamed just before a critical medical test, and he was found to be unfit for military service, and was discharged a while later. His dream seemed shattered. He heard of a new mission’s organisation called MAF, Mission Aviation Fellowship, and in 1948 he joined the mission full time, and left for Ecuador a few months later, to help them set up a mission to the Indians in the upper Amazon jungle. He spent many years in the jungles, perfecting the incredibly difficult task of “jungle flying”, and making some technical innovations to his aircraft that are still used internationally today. He was, and still is, considered one of the greatest missionary aviators ever.

Nate was the leader of that group of five missionaries, and their pilot. It was he who led the group out onto the beach near the village, and it was he who was killed by Guiquita. Nate’s wife, Rachel led Guiquita to the Lord a few months later.

Faith means having a vision for what God can achieve through you. Faith means knowing what God wants to achieve through your life.

Now you might think that God did not achieve the purpose that had filled Pete Fleming with passion. Pete had a desire to see the Auca reached for Christ, but died before speaking to them once. Yet, after Nate’s death, every single one of the people in that particular village came to know Jesus as Saviour, and Nate’s wife led her husband’s murderer to the Lord. The reason: as the five men were murdered, Nate held out his hands with the gifts he had bought, and said the only Auca word he knew: “Maempo”, which roughly translated means “Father”, but is a term of respect and endearment. That word haunted Guiquita for many months.

You see, you’re not just a random being in the universe. You haven’t just popped up to live a few years, and then die here. God specially and specifically designed and crafted you to be exactly who you are. He chose your personality, and gave you talents and abilities for a specific reason. He made you perfect for the job He has in mind for you.

Faith is being sure of what it is God wants you to do. And it also means that you are prepared to give up everything else in order to achieve that goal.

I’m pretty sure that many of the young people here tonight are still trying to decide what career to follow. God isn’t calling all of you to go into full-time service or missions. And he doesn’t everyone to become a martyr. But, as you select a career, ask yourself: How could God use this career? What can God do with an accountant? What can God do with an engineer? Or a teacher?

Before you make all your plans to forge ahead and build a career for yourself, let God have your best. Faith means being willing to let God have your best. Let your boss get the leftovers, after God has used you and your skills. Not the other way round.

Faith means that you are willing to give God your best. Faith means having a vision for what God can achieve through you.

And without faith it is impossible to please God.

But faith isn’t just knowing what God wants you to do. Faith is also being ready to give up all your own desires for God. Let me illustrate again:

JIM ELLIOT had always wanted to be a missionary. He was a man who spent many hours in prayer, and felt a real burden for the South American Amazon Indians. After his studies at theological college, he went to Ecuador, where he linked up with Nate Saint in an effort to reach the Auca Indians. Jim is probably the most famous of those five killed that January morning, and that is mainly through his own writings, and the writings of his wife Elisabeth over the years.

In Jim’s journal, a few weeks before his death, he wrote these words:

He is no fool who gives what he cannot keep to gain what he cannot lose

Faith is being ready to give up all your own desires for God. And it is in giving them up, that you will truly have your desires fulfilled. God is not a spoilsport. He doesn’t want you to give up your dream, and have it replaced by something lousy. God wants you to give up your puny little dream, and look up, and see his dream for your life. His dream for your life is the most exciting, most fulfilling, most exciting thing you will ever do. That’s because God’s dream for your life perfectly matches exactly who you are. God wants your best. He wants the best from you, and He wants to give the best to you.

Faith is being ready to give up all your own desires for God.

And without faith it is impossible to please God.

APPLICATION:

So how do we do this? How do we know what God wants us to do?

If you have done the Experiencing God course, you may remember Henry Blackaby make this statement (it’s on page 116 if you want to look it up):

“I have come to the place in my life that, if the assignment I sense God is giving me is something that I know I can handle, I know it probably not from God. The kind of assignments God gives in the Bible are always God-sized. They are always beyond what people can do, because he wants to demonstrate his nature, his strength, his provision and his kindness to his people and to a watching world. That is the only way the world will come to know him”.

If we look at a task and assess that it is within our capability of achieving it then we do not need to rely on God. And when God sees that that is all we are trying, He also knows that we can do it on our own. So He leaves us to do it on our own. When others look at what we have done, they will say, “Good job, you did great!!”.

But if we take on a task that is outside of our capability to achieve, then God looks at it and says, “you’ll never do that by yourself”, and comes to help us. When we achieve it, people will look at it and say “Wow. What they achieved was impossible for them. How did they do it? It must be God!!”

God can only take the glory when what is achieved is only achievable by God. If people will look at what is done, and think you did it alone, why should God get involved?

If we want God involved in our lives, and involved in what we do, then we must be risk takers, taking on God-sized jobs and God-sized challenges, not man-sized ones. God can ONLY work through risk takers. God can only work through people who have faith enough to step out and do something that only God can do.

That’s why without faith it is impossible to please God.

Let me ask you this. How much are you attempting in your life right now that only God can do? How many risks are taking for God right now? These are vital questions to answer if we are to be good and faithful servants of Almighty God.

Now I don’t mean that you should make goals for life like: “I see a vision of myself riding a Ferrari to my Clifton mansion”. That’s not what we’re talking about here. You need to have a vision of what GOD wants to achieve through you. What is it that God wants you to do? This is not about selfish desires and dreams. This about giving those dreams up to be replaced by God’s great and awesome plans for your life.

And you can believe me that the giving up the dreams that shackle you, and holding onto God’s dreams will be the most truly fulfilling thing you ever do.

Let me ask you again. How much are you attempting in your life right now that only God can do?

Does that question scare you? Does it make you nervous?

Good!!

God knows that you’re nervous. God knows that you can’t do it. God knows that risk taking scares you, and unsettles you. But you’ve got to see it from God’s perspective. God knows that you can’t do it!! That’s why He chose you! HE wants to do it Himself through you. If you COULD do it, He wouldn’t have chosen you.

Without faith it is impossible to please God.

Won’t you, tonight, pledge yourself to God? Won’t you commit yourself to living by faith, and not by sight? Won’t you make a promise with me, tonight, that you will attempt to achieve something in your life that only God can achieve. Won’t you take a risk on God tonight?

Artikel ini saya dapatkan dari http://www.youth.co.za/talks/talk015.htm