Procrastinator Perfectionist

[pagi-pagi buta, ditemani dengan cahaya mentari, udara yang sangat segar untuk menempuh hari yang baru, budi malah merenung di atas kursi kesayangannya yang berwarna coklat tua dan sudah sangat rentan itu. Seorang sahabatnya, Anduk, datang menghampiri dia dan mencoba untuk mempertanyakan raut wajah yang marah dan kesal tersebut dengan satu sapaan yang hangat layaknya seorang saudara. Plak.. terdengar bunyi yang berasal dari punggung Budi yang ternyata berasal dari layangan tangan Anduk dan sebuah perkataan klasik mengikutinya “what’s the matter with u bud ??” (ciiielah.. english version..)
Budi hanya terdiam dan mencoba untuk tidak mengarahkan perhatiannya ke sahabatnya tersebut. Ia lebih mengerutkan dahi nya dan hampir menjadi monster yang siap untuk memburu siapapun yang mencoba mengganggunya lagi. Anduk pun mencoba bersikap serius kali ini, dalam hati Anduk berkata “tak seperti biasanya Budi bertingkah seperti ini. There’s sam ting wong..” (duh.. jadi mandarin version..)
Anduk pun mencoba untuk mencairkan suasana dengan pertanyaan yang sama tapi dengan intonasi yang berbeda, sehingga terjadilah percakapan yang terjadi cukup singkat. Kurang lebih nya seperti ini ]

Anduk : “hey.. is there anything i can do ?”
Budi : “no.. i just thinking about something.”
Anduk : “c’mon.. tell me what da hell is going on ??
[silent for awhile..]
Budi : “there so many things i’ve planned, but only several that i really did..
there so many things i shouldn’t do, but i like being trapped on them..
idealism but inconsisten..
perfectionist but procrastinator..
i hate myself, and all around me..
they couldn’t bring me the best.”

ya beginilah kalo orang perfeksionis dan tipe penunda-nunda pekerjaan.
orang yang perfeksionis cenderung untuk mengerjakan segala sesuatu dengan detail dan sempurna. Apalagi kalo dengan gaya pemikiran yang cenderung idealis. Maka dalam pengerjaan segala sesuatu cenderung sistematis, ditambah sifat yang left brain, berfikirnya bukan holistik tapi part to whole. Sehingga jarang memperkirakan pengaruh gaya berpikir yang didapatkan dari lingkungan (social programming seperti agama, keluarga, dsb). Pemikir seperti ini mempunyai kelebihan dan kekurangan, kelebihannya adalah mereka mampu membuat pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan analisis yang tinggi, mereka selalu dapat mempertimbangkan semua hal baik buruknya, pro kontranya, sehingga keputusan yang diambil biasanya mempunyai kualitas yang baik serta sudah mempertimbangkan segala konsekuensi yang terjadi. Kalau tadi kesempurnaan nya menjadi suatu kelebihan, maka kesempurnaan tersebut juga menjadi suatu kekurangan, tuntutan untuk menghasilkan kinerja yang sempurna serta kemampuannya untuk mempertimbangkan dari semua sisi membuat mereka lama untuk mengambil keputusan. Bahkan sulit sekali bagi mereka memulai suatu pekerjaan karena terlalu banyak yang dipertimbangkan. Hal itu bakal jadi masalah yang besar. Betapa tidak, semua yang ingin dikerjakan sempurna namun ditunda-tunda akan memiliki waktu yang sedikit dibandingkan dengan yang langsung mengerjakan apalagi ditambah perfeksionisnya malah jadi seakan out of time. yang terjadi cenderung untuk menghakimi suatu keadaan dengan menyalahkan diri sendiri dan orang lain sekitar.

woalah..
tapi satu yang penting dan harus digarisbawahi dalam kehidupan.
kayak penggalan lagu Oasis aja yang liriknya begini :

“And so, sally can wait
She knows its too late as were walking on by
Her soul slides away
But dont look back in anger
I heard you say”

“Don’t look back in anger “, ya.. jangan melihat masa lalu sebagai sebuah penyesalan. Kalaupun nyesal, ya jangan sampai marah dan terus-menerus menyalahkan diri sendiri atau orang lain atas kejadian yang diterima. Kalau dicari-cari alasan, mungkin bakal ada 1001 alasan mengapa begini mengapa begitu, tapi tetep aja ga bakal merubah keadaan.
Seperti kayanya Wyne Dyer
“All blame is a waste of time. No matter how much fault u find with another, and regardless of how much u blame him, it will not CHANGE u”
Mencari “kambing hitam” atas sebuah kegagalan adalah cara mudah untuk menghindari tanggung jawab menyelesaikan tantangan dalam kehidupan, dan semuanya itu cuma buang-buang waktu, .

Everything’s happen for a reason, isn’t ??
kalau semua ada alasannya, kenapa kita tidak mencari alasannya (walaupun alasan itu tersirat). Kenapa kita malah terkurung dalam pertanyaan ” Apakah ada yang salah ?? Siapa yang salah ?? Mengapa semua itu bisa terjadi? ”
Kalau semua yang terjadi itu ternyata telah menjadi pelajaran yang berharga. so mengapa kita harus menjadi takut untuk melangkah.

ya ambil hikmahnya aja, jangan cuma ambil salahnya.
Hidup emang ga pernah menunggu, waktu emang ga pernah bisa kembali.
Kehidupan telah mengajarkan bagaimana seharusnya mengambil tindakan.
walaupun dalam proses pengajarannya tidak ada pembimbing, harus mengalami kesalahan, penyesalan dan segala macamnya.
tapi itulah hidup, itulah aktualisasi diri.
Jadi mulai sekarang harus komit mengambil 100% tanggung jawab atas tindakan yang dipilih.
oke….

gw tutup dengan pernyataan Pak Karno :

“Yang terpenting bagi seseorang adalah terus dan selalu mengerjakan sebaik mungkin segala sesuatu yang ia anggap benar.
Apa dan bagaimanapun hasil akhir dari pekerjaan itu, serahkanlah pada Tuhan.
Mungkin tercapai 100%, mungkin setengah tercapai, mungkin pula tidak tercapai sesuai keinginanmu.
Itu tidak penting.
Engkau harus yakin bahwa telah mengerjakan sebaik-baiknya, dengan demikian engkau tak akan menyesal, dan percayalah bahwa setiap keputusan Tuhan adalah yang terbaik bagimu.”

Notes ini dibuat bukan untuk menyalahkan si budi dengan sifatnya yang seperti itu, namun bagaimana kita bisa berinteraksi, mengenal karakter dari budi dan bisa menyikapinya dengan strategi yang baik sehingga dapat memanfaatkan kelebihan darinya dan meminimalisir kelemahannya. Life is about strategy guys

Happy sunday, Gbu all. =)

Iklan

~ oleh Risdo Wilson pada Mei 25, 2009.

Satu Tanggapan to “Procrastinator Perfectionist”

  1. i hate myself. saya perfeksionis, konsisten, tp ga teliti. udah banyak waktu terbuang gara2 merekonstruksi hal2 kecil alhasil mengulang semua dari awal. pernah beberapa kali hal2 seperti itu dicuekin tp tetep aj mengganjal di hati. malah bikin depresi. ada ga ya cara menghilangkan penyakit psikis ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: